Bisnis Go-Jek Terkenal Perjuangan Tanpa Lelah

Beberapa waktu lalu, di sebuah lapangan basket di Jakarta Barat, ada sebuah acara yang dipenuhi oleh banyak pemuda usia kerja. Mereka diminta untuk mengantri, tapi jumlahnya yang sangat banyak membuat mereka susah diatur. Apa tujuan mereka datang ke sana? Menjadi sopir Go-Jek.

Seorang pengemudi Go-Jek di jalanan Jakarta. Foto oleh Adek Berry/AFP

Bagi yang belum familier, Go-Jek adalah salah satu startup Indonesia yang pertumbuhannya paling cepat dan paling terlihat di publik. Jasa transportasi, kurir, dan belanja ini melegitimasi ojek yang biasanya bersifat tidak formal dengan memberikan sopirnya seragam jaket dan helm hijau, serta mengatur mereka melalui aplikasi mobile yang memungkinkan penggunanya memesan ojek.

Acara yang kita sebutkan di atas tadi adalah acara perekrutan massal, sebuah gerakan agresif dari Founder Go-Jek Nadiem Makarim untuk tetap mengimbangi persaingan dari kompetitor lokal GrabBike yang merupakan salah satu layanan yang ditawarkan startup transportasi asal Malaysia GrabTaxi.

Tapi meskipun menjadi cukup terkenal di Jakarta, Founder dan CEO Go-Jek Nadiem Makarim sulit ditemui. Di acara perekrutan itu sendiri, ia muncul di tenda pers untuk menjawab beberapa pertanyaan, kemudian kembali hilang meskipun banyak reporter yang mengejarnya. Akhirnya saya memutuskan untuk datang ke kantornya di wilayah Kemang.

Area kantor Go-Jek yang luas penuh dengan jaket hijau dan berbagai macam aktivitas. Nadiem menghentikan pekerjaannya saat itu dan menyambut kami sembari merokok di ruang khusus.

Sebagai reporter, saya harus mengakui bahwa CEO Go-Jek ini tahu bagaimana cara bersikap dengan media. Kebanyakan percakapan kita tidak bisa dipublikasikan, dan ketika Nadiem benar-benar tidak mau membeberkan informasi, ia hanya tersenyum dan berkata “Menurut lu gimana Bro?”

Setelah merokok, ia mengingat kembali perkembangan Go-Jek dalam waktu setengah tahun ini. Ia sangat menekankan bahwa kesuksesannya di Jakarta terjadi karena faktor “ada di tempat dan waktu yang tepat”:

Momentum adalah hal yang tidak kekal, kan? Selalu naik dan turun. Dan jika kamu tidak menangkap momentum itu di saat terbaiknya, kamu akan kehilangan momentum itu. Dan kehilangan momentum adalah sesuatu yang paling buruk.
Setelah lulus di jurusan bisnis internasional di Brown University, Nadiem bergabung dengan perusahaan riset dan konsultasi global McKinsey and Co. cabang Jakarta. Sebagai orang asli Indonesia, ia memang ingin kembali ke tanah air, tapi ia sendiri mengakui bahwa McKinsey adalah satu-satunya pilihan yang ia miliki saat itu.

Ia terus bekerja di McKinsey selama tiga tahun, dan mengambil semua manfaat dan belajar banyak hal. Ia melakukan pekerjaan untuk beberapa perusahaan milik pemerintah, lalu memulai sebuah inisiatif bernama Young Leaders for Indonesia. YLI adalah program untuk mempersiapkan mahasiswa di tahun ketiga untuk masuk ke dunia kerja. Nadiem mengatakan bahwa proyek ini adalah salah satu alasan utama yang membuatnya bisa masuk ke Harvard Business School pada 2009.

Sebelum keluar, Nadiem memiliki sebuah ide — masalah yang ingin ia selesaikan di Jakarta. Idenya adalah masyarakat bisa menghubungi call center dan meminta sopir ojek untuk menjemput mereka sesuai pesanan dan mengantar mereka ke tempat tujuan. Nadiem kemudian mulai menjalankan proyek perdana Go-Jek di tahun tersebut.

“Saya mulai dengan sebuah call center, dan merekrut 20 supir. Kemudian mereka akhirnya menjadi orang yang merekrut supir lainnya,” jelasnya. “Saya memasarkan hanya ke teman-teman dan keluarga, dan proyeknya mulai berkembang dari sana, secara organik dan perlahan.”

Selagi mengikuti program MBA Harvard, Nadiem berteman baik dengan seseorang yang ternyata menjadi saingan bisnis utamanya sekarang. Yap, ia kebetulan bertemu dengan Anthony Tan, yang sekarang adalah Co-Founder dan CEO GrabTaxi.

“Ia adalah salah satu teman baik saya. Kami selalu saling berkonsultasi mengenai bisnis kami. [Rencananya] Motor [atau ojek] akan menjadi bagian saya, dan dia akan mengambil [sektor] taksi.”

skripsi

Nadiem tidak mengungkap kondisi hubungannya dengan Anthony atau berkomentar mengenai persaingan Go-Jek dan GrabBike. Tapi, ia mengaku bahwa GrabTaxi adalah salah satu katalis kesuksesan Go-Jek 4 tahun kemudian. Tapi, hingga saat itu, Go-Jek beroperasi di Jakarta di bawah kepemimpinan co-founder sementara Jurist Tan dan Brian Cu.

Pindah dari Rocket

Setelah Harvard, Nadiem bertemu dengan pria berkebangsaan Jerman bernama Oliver Samwer. Karena sudah kenal dengan Rocket Internet, ia tidak perlu bertanya banyak. Oliver menyukai Nadiem karena latar belakang Harvard dan pengalaman McKinsey-nya.

Ia meminta Nadiem untuk membantu membangun Rocket Internet di Indonesia. Secara resmi, jabatan Nadiem adalah managing director di Zalora Indonesia. Tapi, saat itu, ia dan tim awal Zalora juga membantu Lazada Indonesia.

Nadiem mengatakan bahwa Rocket adalah tempat yang menyenangkan karena jumlah dana yang ia miliki.

“Saya melihat Rocket sebagai jalur cepat universitas untuk bisnis online,” katanya.

“Saya bisa menggunakan banyak uang dan merekrut orang-orang terbaik di industri ini […] Rocket juga adalah tempat saya bisa belajar bagaimana cara mengembangkan bisnis. Saya sangat beruntung punya pengalaman di Rocket Internet sebelum berfokus di Go-Jek […] Banyak hal yang bisa dipelajari di sana. Saya menerapkan apa yang saya pelajari tersebut di Go-Jek. Saya juga jadi tahu apa yang tidak boleh dilakukan.”

Seperti banyak pegawai Rocket Internet lain, Nadiem memutuskan untuk berhenti setelah bekerja setahun di Zalora dan mencoba hal baru. Lingkungan kerjanya tidak cocok untuknya. Ini tidak mengejutkan, karena di Asia Tenggara, Rocket dikenal sering gonta-ganti pegawai. Banyak yang menganggap ini disebabkan oleh budaya perusahaan yang buruk.

Meskipun sering disebut sebagai mantan pegawai Rocket, Nadiem tidak pernah menganggap dirinya sebagai salah satu pendiri Rocket di Indonesia. Ia berkata “Saya tidak pernah menganggap diri saya sebagai co-founder. Mereka menyebut saya itu, tapi sejujurnya, saya adalah CEO hasil perekrutan.”

Memanfaatkan fenomena Uber

Setelah Rocket, Nadiem kembali bereksperimen dan mencoba proyek startup lain yang kebanyakan gagal. Tapi selagi melakukan itu, Go-Jek tetap berjalan meski tanpa pertumbuhan yang signifikan. Masih hidup, tapi tidak impresif sama sekali.

Tapi, di pertengahan 2014, investor mulai menghubunginya dan berminat pada konsep ridesharing. Mereka mulai menanyakan potensi investasi di Go-Jek. Menurutnya, ketertarikan investor tersebut muncul karena masuknya Uber dan GrabTaxi ke pasar Indonesia.

Saat itu, ia adalah chief innovation officer di perusahaan pembayaran lokal bernama Kartuku. Tapi ketika VC mulai menghubunginya dan membahas proyek berlandas passion yang ia buat beberapa tahun lalu, ia tahu bahwa ia harus kembali mengerjakan Go-Jek secara full-time.

"Kemungkinan sukses di sebuah startup saja sudah 10 persen. Jika kamu tidak melakukannya secara full-time, kemungkinannya akan jadi nol […] kami beruntung karena selama beberapa tahun Go-Jek masih hidup, tapi jelas tidak bertumbuh."

Jurist dan Brian masih menjalankan perusahaan itu secara part-time. Nadiem mendapatkan investasi dari NSI Ventures dan menghubungi mereka kembali dengan sebuah penawaran. “Saya bilang ‘kalian bisa tinggal dan mendapat bagian saham kalian, tapi kalian harus bekerja full-time’ […] Sayangnya, mereka tidak bisa karena yang satu sedang kuliah S2, sedangkan yang satu lagi tinggal di Manila, jadi mereka tidak bisa tinggal. Kami akhirnya membeli saham mereka.”

Nadiem mengundang Kevin Aluwi yang merupakan head of business intelligence di Zalora sebagai CFO Go-Jek. Nadiem mengklaim belakangan ini ia tidak pernah menggunakan mobil karena menggunakan produknya sendiri untuk hampir segala keperluan. Sambil tertawa, Kevin mengatakan ke Nadiem: “Itu benar. Kita melihat daftar power user, dan kamu adalah salah satunya.”

Logistik adalah titik kuncinya

Dengan munculnya layanan pesan makanan dari Go-Jek bernama Go-Food, startup ini membuat orang-orang ragu akan kemampuan mereka untuk berkembang secara efektif dengan mencoba masuk dan menangani lebih dari satu sektor industri. Nadiem menjawab bahwa justru variasi dari layanan Go-Jek inilah yang membuat startup ini bisa berkembang dengan cepat.

“Logistik adalah kunci dari semuanya. Kunci untuk e-commerce dan juga makanan. Kami mengambil risiko dengan mencoba mengatasi masalah di dua sektor ini dengan cara yang berbeda,” katanya.

Kevin menambahkan, “Pada dasarnya, dengan jaringan logistik seperti yang sudah kami buat, semua unit bisnis dan layanan yang berbeda ini ditumpuk. Kami hanya mencari yang aktivitas ekonominya paling tinggi untuk dimasukkan ke dalam jaringan. Jadi, kami tidak kehilangan jika fokusnya ada pada meningkatkan nilai aktivitas yang dilakukan di jaringan tersebut.”

Keduanya juga mengatakan bahwa Go-Jek malah menyiapkan jutaan sopir ojek untuk meningkatkan rantai nilai tersebut ke depannya. Nadiem mengatakan bahwa jika suatu hari Indonesia mendapatkan sistem transportasi umum yang layak, Go-Jek pasti akan tetap ada dan menyediakan lapangan pekerjaan untuk sopir ojek, meskipun pekerjaan tersebut bukanlah mengantarkan orang ke berbagai pelosok kota.

Go-Jek berencana untuk memperkenalkan layanan belanja personal bernama Go-Mart yang mirip dengan Instacart. Layanan ini akan bersaing dengan layanan delivery bahan makanan HappyFresh.

Dalam beberapa minggu terakhir, Go-Jek menjadi aplikasi gratis paling populer di iOS Indonesia. Setelah perekrutan massal di lapangan basket tersebut, Nadiem mengatakan bahwa Go-Jek sekarang punya lebih dari 30.000 sopir di Jakarta.

Media mengatakan bahwa startup ini baru saja mendapatkan investasi dari investor internasional yang cukup terkenal. Tapi Nadiem dan Kevin menolak untuk berkomentar soal itu. Ketika ditanya mengenai metrik penting seperti jumlah perjalanan yang sudah dilakukan oleh Go-Jek hingga saat ini, Nadiem hanya tersenyum dan mengatakan “no comment”.

Terkait entrepreneur teknologi generasi baru di Indonesia, Nadiem mengatakan bahwa mereka harus punya keberanian untuk mendapatkan banyak uang, menggunakannya dengan cepat, atau all out.

“Saya rasa itulah komponen terpenting yang hilang dari founder Indonesia sekarang. Mereka hanya mencoba untuk mengoptimasi dan memvalidasi. Tapi jika ingin membuat sesuatu yang besar dan yakin akan pasar dan produk yang dibuat, jangan ragu melakukannya.” — Rappler.com

Tulisan ini sebelumnya diterbitkan di situs berita teknologi dan startupTechinAsia.